Listrik “Gratis”

Pagi ini, saya melihat bincang- bincang di salah satu saluran tv swasta tanah air yang sedang seru- serunya membahas masalah pemberian listrik gratis kepada rakyat “miskin”. Dalam bincang- bincang ini hadir dirut pln dan beberapa wakil rakyat “kita” dari DPR.

Menurut rencana mereka, pemberian listrik gratis ini akan sangat membantu kepada masyarakat miskin yang saat ini jumlahnya akan cukup besar di tanah air. Apalagi, pemberlakuan meteran pra bayar yang katanya sudah berlaku di beberapa daerah sudah sangat membantu untuk pelaksanaan program yang satu ini.

Tapi, mulai  saya lahir hingga sekarang, saya telah melihat banyak sekali kebijakan pemerintah yang justru jadi pedang bermata dua. Di satu sisi, ingin membebankan kebijakan ini untuk kepentingan orang miskin dengan cara mencabut subsidi untuk orang “kaya”. Namun disi lain juga menjadikan rakyat miskin sendiri sebagai sasaran empuk dari kebijakan yang kadang- kadang kesannya terburu- buru dibuat tanpa memperhatikan hasil akhir dari kebijakan tersebut. Dan parahnya, jika kebijakan tersebut malah berdampak buruk, sepertinya masalah tersebut diabaikan tanpa ada usaha memperbaiki atau bertanggung jawab atas kegagalan program yang dibuat.

Tidak perlu saya sebutkan lagi program- program yang saya anggap gagal tersebut, silahkan anda menerka – nerka sendiri. Karena saya takut nanti dianggap melakukan provokasi.

Jika di tinjau dari perspektif saya, pemberian listrik gratis bagi masyarakat miskin ini tujuannnya sangat mulia. Tapi perlu dipikirkan lagi, apakah tujuan yang sangat mulia ini nantinya tidak menjadi boomerang  bagi rakyat miskin sendiri.

PLN sendiri adalah perusahaan atau badan usaha milik Negara, yang tugasnya tidak lain menghasilkan keuntungan untuk menunjang pembangunan negeri ini bukan?.

Bayangkan jika natinya, dan pasti akan ada kenaikan tarif pada sector industri. Otomatis biaya produksi/ operasional yang ada akan meningkat, dan tentu saja akan berdampak langsung pada naiknya harga jual. Kalau harga jual naik, bahkan kadang- kadang menggila, bukankah itu merugikan masyarakat miskin itu sendiri?

Karena kenaikannya bukan saja di beberapa sector, tapi di semua sector baik barang maupun jasa. Belum lagi jikalau nantinya penghematan dilakukan dengan melakukan perampingan tenaga kerja, itu akan menambah jumlah pengangguran yang sekarang jumlahnya sudah cukup besar.

Apalagi, pastinya akan sangat sulit mengidentifikasi “ orang – orang miskin “ secara benar. sebab kadang- kadang, pengaruh  mental gratisan yang masih kental. Orang yang tidak miskinpun mengaku- ngaku sebagai orang miskin, dan ini tidak bisa kita abaikan begitu saja, karena dalam kenyataan kita melihat kejadian ini dengan kasat mata.

Belum lagi jika angin kebijakan ini nantinya berubah mengikuti iklim politik. Hasilnya pasti akan dirasakan jangka panjang.

Mudah- mudahan, pendapat saya ini salah. Sebab pemerintah pasti tau apa yang terbaik untuk rakyatnya

Semoga

KIDDIES

3 pemikiran pada “Listrik “Gratis”

  1. menarik sekali ulasannya,,, pedang bermata dua…🙂
    jadi sebenernya yg bener tuch mesti gimana ya,,, begini salah begitu salah….
    setiap keputusan yang di lakukan kan pasti akan ada dampak positif dan negatifnya…

    Emang susah ya,,,,😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s