Belajar kehidupan dari film “changing lanes”

CHANGINGLANESKebetulan tadi  pas selesai mandi sore, saya iseng iseng nonton tv.  Salah satu stasiun tv swasta luar negeri yang kebetulan memang khusus memutar film- film luar negeri. Sepertinya yang diputar film lama, judulnya  “changing lanes”. Yang bercerita tentang 2 orang yang menjadi tokoh utama ben Affleck dan Samuel s jackson, dua orang berbeda yang kebetulan punya kehidupan social yang juga berbeda jauh.  Gavin Banek (Ben Affleck), seorang partner dari pengacara hukum yang tenar, sedangkan  Doyle Gipson (Samuel L. Jackson), seorang pria yang sedang dalam sidang perceraian.

Mereka kemudian dipertemukan dalam sebuah insiden kecelakaan mobil yang akhirnya membawa mereka dalam satu intrik drama. Gavin yang serba sembrono dan terburu – buru, tanpa sengaja meninggalkan sebuah file penting yang juga mempertaruhkan hidup dan matinya. Sebuah file tentang rahasia perusahaannya! Doyle yang kecewa akibat perlakuan Gavin pun menggunakan file tersebut untuk mengancam, meneror Gavin, guna membalas dendam kekesalannya.

 

Ego masing – masing saling bertahan, Gavin yang merasa dilangkahi Doyle, mulai melakukan pembalasan dengan menutup rekening bank, membekukan pinjaman, hingga Doyle mau menyerahkan file penting miliknya. Karena waktu juga memburu Gavin.

Tapi kejadian menarik justru merubah persepsi mereka tentang kehidupan pada akhirnya, yang penasaran mau tau apa yang saya maksud. Silahkan nonton sendiri filmnya.

Karena bukan itu yang ingin saya bahas disini.

Yang saya ingin bahas disini adalah bagaimana seorang manusia dengan sifat dasar yang sebenarnya baik, bisa berubah seketika, dan seseorang yang mungkin buruk bisa berubah sadar dan menyadari kekacauan yang dibuatnya.

 

Didalam film ini, saya tersadar akan betapa kita terkadang dikarenakan ego yang bertopengkan harga diri, kebanggan pribadi, status, dan tetek bengek kegilaan masyarakat modern, yang hebat dalam melabeli sesuatu, begitu sering merasa superior sendiri. Bahwa ego dalam berbagai bentuknya, kerap merubah kita menjadi sesuatu yang sebenarnya bukan kita. Terkadang kita berubah buas, bahkan nyaris menjadi iblis karena sesuatu yang bernama ego, yang menyamar menjadi kata harga diri, kata gengsi, dan anonimnya, yang sebenarnya sangat absurd dan penting untuk dipertanyakan pada diri sendiri. apakah ini benar ?

 

Terkadang kenyataan membuat kita setiap harinya berkutat, dan berjuang dalam ujian karakter. Tentang bagaimana kita bersikap, dan bagaimana hasilnya sehingga orang lain juga merespon sikap kita.

Dan dibagian akhir film ini, ada satu pesan moral yang terselip ditengah dramanya. Yakni “terkadang, melepaskan sesuatu yang kita suka, itu membebaskan perasaan kita. Dan terkadang, kita hanya sok tau dan menghakimi orang lain berdasarkan apa yang kita lihat. Bukan apa yang mereka alami”

 

soo, stop to judge everyone, cause you havent idea, about what their problem

 

By

KIDDIES

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s